Launching PETANI PENGUSAHA, GPPI Mendorong Petani untuk menjadi Pengusaha

Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) kembali menggelar Evaluasi Tahunan Ilmiah Kinerja Agribisnis dan Perkebunan (ETIKAP) keenam pada tahun 2025, ETIKAP yang di sponsori oleh Badan Dana Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Hotel Manhattan, Jakarta Selatan, tanggal 11-12 Jakarta

Dalam gelaran ETIKAP yang mengusung tema “Diseminasi Inovasi dan Teknologi Petani Sawit, Kelapa, dan Kakao”. GPPI mengadakan melaunching kelompok PETANi PENGUSAHA.

GPPI telah membina Petani terutama Petani Baru, agar berperan sekaligus menjadi pengusaha dari Perkebunan, selama ini paradigma bahwa petani  adalah menanam – panen lalu menjual, dan seakan tidak terlibat dalam industri sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menentukan membuat dan menentukan pasar, dengan PETANI PENGUSAHA ini GPPI mendorong supaya petani memiliki pemikiran sebagai pengusaha, bermental pengusaha, dan melakukan praktek bertani dengan pola pengusaha, papar Delima Hasri Azahari selaku Ketua Umum GPPI.

Lebih lanjut Ibu Delima menjelaskan, petani harus berjiwa pengusaha yang mampu mengelola hasil panen sampai ke industri Hilir nya, terutama dengan teknologi dan strategi bisnis yang terbaik,  terbaru dan tepat guna.

Penerima penghargaan sebagai Petani Pengusaha adalah Nana Supriatna seorang petani pengusaha kopi di Kabupaten Bandung, Jawa barat, selain itu Nana sudah melaksanakan ekspor Lidi Sawit Ke negara India. Penerima kedua Kridoyono Handaruroso, perwakilan petani pengusaha Teh. GPPI telah mengupayakan untuk market akses teh Ndeso masuk pasar Amerika pada acara Wow Festival Indonesia di Washington DC, bahkan untuk mendorong usaha teh logo GPPI juga sudah ada di packaging teh NDeso, namun demikian tetap dibutuhkan untuk bantuan teknologi pengolahan teh agar bisa masuk ke market teh premium, demikian penjelasan Delima.

Lebih lanjut, Delima menegaskan pentingnya peran sektor perkebunan dalam perekonomian nasional. Menurutnya kontribusi sektor ini bukan hanya dalam bentuk sumbangan devisa, tetapi juga sebagai penyerap tenaga kerja yang signifikan, untuk itu GPPI akan melaksanakan kunjungan dan praktek usaha Coklat dan memperbanyak Bibit Kopi Ke BRMP Pakuwon Sukabumi sebagai rangkaian Kegiatan ETIKAP.

Ibu Delima juga menyoroti dampak kebijakan luar negeri, khususnya kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, terhadap kinerja ekspor komoditas perkebunan Indonesia. Isu ini menjadi sorotan mengingat AS adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk kelapa, kakao, dan sawit Indonesia.

Sebagai penutup, Ibu Delima menyampaikan apresiasinya kepada para petani pengusaha dan berharap ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi kemajuan agribisnis dan perkebunan nasional.

“Komoditas seperti kelapa sawit, kakao, dan kelapa telah menjadi andalan Indonesia di pasar global. Tidak hanya menyumbang miliaran dolar devisa setiap tahunnya, sektor ini juga membuka lapangan kerja bagi jutaan masyarakat,” ujar Haris.

“Tidak sampai di sana saja, komoditas ini juga meningkatkan kesejahteraan petani serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” sambungnya (Sekretariat GPPI).